Loading...

Minggu, 05 Agustus 2012

PENDIDIKAN ABAD PERTENGAHAN DI INDONESIA

PENDIDIKAN ABAD PERTENGAHAN DI INDONESIA


Pendidikan merupakan sebuah proses transpormasi ilmu pengetahuan baik itu ilmu alamiah, maupun ilmu akal, dari generasi yang lebih tahu kepada generasi selanjutnya yang belum memiliki pengetahuan sebanyak generasi terdahulunya. Proses ini berlangsung dari zaman prasejarah sampai abad modern saat ini. Mulai dari cara yang sederhana sampai kepada cara yang kompleks seperti saat ini, mulai dari hanya berbagi pengalaman ketika berburu di depan api unggun sampai kepada melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekarang ini. Semua itu hampir berlangsung di seluruh dunia tidak hanya di Indonesia saja,  itu merupakan proses alamiah manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berbagi dalam segala aspek kehidupannya.
Sebelum bermunculanya kerajaan-kerajaan Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia diperkirakan telah tumbuh dan berkembang pendidikan dalam fase-fase yang cuckup sederhana dimana pada masa ini bangsa indonesia belumlah mengenal tulisan sehingga pendidikan mungkin hanya melalui lisan saja.  namun, fakta lain  muncul karena banyak ditemukan gambar-gambar yang menggambarkan cerita tentang proses belajar tahap awal di Indonesia di dalam goa-goa. Ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia telah mulai mengenal cara untuk melakukan pendidikan meskipun hanya melalui gambar sederhana yang mereka gambar di dinding-dinding goa.
Pada abad pertengahan di Indonesia tidak jauh beda dengan di Eropa baik Indonesia maupun Eropa memiliki ciri yang sama dalam hal beberapa aspek diantaranya adalah mengenai pendidikan maupun pemerintahan. Bila di Eropa pendidikan maupun pemerintahan kiblat utamanya adalah gereja atau gerejasentris di Indonesia yang menjadi kiblatnya adalah agama Budha, Hindu, dan ditutup oleh Islam, yang banyak mempengaruhi sistem hidup maupun pemerintahan pada saat itu. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya memiliki persamaan namun tak serupa yakni pada abad pertengahan baik di Eropa maupun Indonesia sama-sama dipengaruhi oleh unsur agama yang dominan bila di Eropa agama kristen yang  jadi fokus maka di Indonesia agama Hindu, Budha, dan ditutup oleh Islam yang dominan.
Meskipun di Eropa pada saat itu mengalami masa yang lazim disebut dengan “The Dark Ages” atau zaman kegalapan yang mana ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang dengan maksimal ini terjadi karena monopoli ilmu oleh Gereja. Mengapa demikian, ini terjadi karean semua manuskrif-manuskrif, catatan-catatan mengenai pengetahuan dikusai oleh Gereja dan dikembangkan dogma bahwa barang siapa yang berusaha untuk belajar atau membaca buku pengetahuan di perpustakaan dia akan mati. Sehingga masyarakat pun enggan untuk mengkaji masalah keilmuan pada saat itu. Memang, ada masyarakat yang nekat tapi mereka semua diketemukan meninggal baik itu ketika membaca maupun setelah membaca buku-buku di dalam perpustakaan. Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia dimana pendidikan dapat berkembang hingga ke Mancanegara sekalipun dan perkembangan pendidikan di Indonesia sangatlah berbeda bila dibandingkan dengan di Eropa yang masa kegelapan mungkin di Indonesia bisa kita sebut sebagai masa “Pencerahaan” mengapa saya menyebutkan demikian karena bangsa Indonesia pada saat itu mulai melek akan ilmu dan sadar betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan meskipun secara garis besar ilmu yang berkembang adalah ilmu yang ruang lingkupnya mengenai agama.
Pendidikan pada abad pertengahan di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkembang pada masa sejarah awal Indonesia. Pendidikan mulai  berkembang pada saat kerajaan-kerajaan di Indonesia menganut ajaran Hindu, Budha, maupun Islam.
Kita dapat mengambil contoh dari sisi kerajaan Budha di Indonesia adalah kerajaan Sriwijaya dan Holling kedua kerajaan ini memiliki ciri yang sama yaitu sama-sama kerajaan yang bercorak Budha dan memiliki guru yang terkenal hingga ke Mancanegara.
Ini terbukti dengan termahsurnya kerajaan Sriwijijaya ( abad ke-7 M) sebagai pusat ajaran Budha di Asia Tenggara, bahkan Ptolomeus sempat menyebut tentang  Borousai (merujuk pada pantai barat Sumatera Utara atau Sriwijaya) ini membuktikan bahwa Sriwijaya telah terkenal hingga ke daratan Eropa saat itu.
Tidak hanya kerajaan Hindu dan Budha saja yang berpengaruh dalam proses pendidikan di Indonesia pada abad pertengahan namun kerajaan-kerajaan Islam pun turut andil dalam hal ini perkembangan pendididkan abad pertengahan di Indonesia, bahkan lebih modern dan terstruktur sebagai lembaga-lembaga pendidikan yang lebih resmi dibandingkan dengan masa-masa pendidikan di kerajaan hindu maupun budha pada masa sebelum berdirinya kerajaan islam. Seperti yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, yakni sebuah naskah yang bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah ini dikatakan, bahwa sekitar abad  XV  Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam,  jauh sebelum Sarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan.  Selain di Cirebon terdapat kerajaan-kerajaan Islam lain di Indonesia yang memiliki struktur pendidikan yang lebih modern dibandingkan dengan kearajaan Hindu maupun Budha di antaranya: Perlak, Samudra Pasai Merupakan kerajaan-kerajaan Islam yang memiliki perhatian yang sangat tinggi dan maju dalam hal pendidikan baik itu agama maupun sciencedan kerajaan Islam yang masuk kebabak pertengahan di Indonesia.
             
1. Masuknya Agama Hindu dan Budha di Nusantara    

            Pada awal abad Masehi, masyarakat Nusantara mulai menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa di Asia, terutama India dan Cina. Orang-orang India datang ke Nusantara dalam jumlah yang besar dan berhasil membangun pemukiman. Mereka terdiri dari kaum pedagang, pendeta, dan kelompok lainya. Para pendeta datang ke Nusantara bersama-sama kaum pedagang. ketika berada di Nusantara para pendeta Hindu dan Budha aktif menyebarkan agamanya. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang sengaja diundang penguasa Nusantara unutk menjalankan upacara-upacara resmi kerajaan. Misalnya, upacara pengangkatan raja sebagai kesatria.
            Menurut penelitian para ahli, pengaruh agama Budha telah memasuki Nusantara pada sekitar abad ke-2 sampai abad ke-5 Masehi. Bukti-bukti peninggalan agama Budha di Nusantara misalanya penemuan arca perunggu Budha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan di Anawarti (India). Arca yang sama juga ditemukan di Jember (Jawa Timur) dan  bukit Seguntang (Sumatera Selatan). Selaian itu, ditemukan sejumlah arca di Kota Bangun (Kutai, Kalimantan Selatan) memperlihatkan langgam seni Ghandara (India). Masa perkembangan agama Budha berlangsung pesat pada abad VII-IX.
            Menurut penafsiran tujuh buah yupa peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur dan prasasti karajaan Tarumanegara di Jawa Barat, pengaruh agama Budha muncul pertama kali sekitar abad ke-5 Masehi. Oleh karena itu yupa dan prasati dikedua kerajaan itu menggunakan hurup Pallawa, maka diperkirakan pengaruh Hindu yang menyebar ke beberapa daerah di Indonesia pada masa permulaan berasal dari India Selatan. Selain di Kutai dan Tarumanegara, pengaruh Hindu di Nusantara berkembang pula kerajaan Ho-ling, Mataram, Kanjuruan, Kediri, Singasari, Majapahit, Sunda, dan Bali.
Sejarah agama Hindu-Budha di Indonesia berbeda dengan sejarahnya di India. Disini, kedua agama tersebut dapat tumbuh berdampingan dan harmonis. Bahkan ada kecenderungan syncretism antara keduanya dengan upaya memadukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber yang Maha Tinggi. Sebagaimana tercermin dari satu bait syair Sotasoma karya Mpu Tantular pada zaman Majapahit “Bhinneka Tunggal Ika”, yakni dewa-dewa yang ada dapat dibedakan (bhinna), tetapi itu (ika) sejatinya adalah satu (tunggal).
Sekalipun demikian, patut diketahui sempat adanya sejarah konflik politik antar kerajaan yang berbeda agama pada masa-masa permulaannya.





1.1  Pendidikan Masa Hindu & Budha di Indonesia

Pada masa itu,  pendidikan lekat terkait dengan agama. Menurut catatan I-Ching, seorang peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan.
Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Ching menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India). Bahkan, di antara para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi internasional, seperti Sakyakirti dan Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama Djnanabhadra (Holling). Pada masa itu, para peziarah Budha asal China yang hendak ke tanah suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk melakukan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.
Tidak hanya di dalam negeri saja para pelajar-pelajar Sriwiajaya belajar karena dalam perkembanganya banyak dari pemuda-pemuda Nusantara yang tertarik untuk memperdalam ilmu keagamaan di India. Mereka yang menuntut ilmu agama di India semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Raja-raja Sriwijaya menaruh perhatian yang cukup baik terhadap pelajar-pelajar Nusantara yang menuntut ilmu di India dengan jalan meminta bantuan kepada Raja-raja di India untuk membangun asrama. Permintaan itu dikabulkan sehingga berdirirlah wihara para pelajar Nusantara di Nalanda pada tahun 850 Masehi dan di Nagapatnam pada tahun 1030 Masehi.
Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain.
Ilmu-ilmu yang berkembang pada masa itu tidak terlepas dari  unsur Budha maupun Hindu, misalkan pada seni bangunan bangunan-bangunan yang dibangun pada masa Hindu mengalami akulturasi dengan budaya punden berundak yang merupakan budaya khas dan asli Indonesia pada masa Meghalitikum bergabung menjadi satu dalam suatu bentuk yang baru yang bercampur dengan unsur agama Hindu, atau nanti ketika muncul kerajaan-kerajaan Islam dalam hal pembentukan masjid mengalami akulurasi juga dengan budaya Hindu tersebut, seperti Masjid Agung Demak yang bentuk dari atapnya berbentuk punden berundak-undak yang tentu saja memiliki makna berbeda tentu dengan filosopi umat Hindu dalam memaknai punden berundak ini. Bila dalam agama Hindu makna dari punden berundak ini sebagai lambang dari kasta, maksudnya adalah bentuk dari undakan itu adalah urutan kasta misalnya dalam undakan yang teratas adalah kasta brahmana dan yang paling dasar adalah kasta sudra.  Berbeda halnya dengan filosopi bangsa Indonesia ketika masih menganut paham Dinamisme dan Animisme mereka membuat punden berundak-undak disebuah bukit yang tinggi dengan diameter yang sangat besar ini bertujuan agar mereka dapat bersentuhan langsung dengan apa yang mereka yakini karena semakin tinggi undakan semakin dekat pula mereka dengan apa yang mereka sebut penciptanya. Kita dapat mengambil contoh adalah situs Meghalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Pola pendidikan pada masa ini adalah tidak berbentuk lembaga-lembaga pendidikan layaknya pendidikan pada masa modern seperti sekarang ini. Ini terjadi karena memang pusat pendidikan berlangsung di dalam ruang lingkup agama Hindu maupun Budha sehingga pendidikan tidak berjalan jauh dari agama yang dianut pada masa itu. Proses belajar-mengajar pada saat itu hanya berlangsung di asrama khusus, dengan fasilitas belajar seperti ruang diskusi dan seminar.
Pada masa kerajaan-kerajaan baik itu kerjaan Hindu maupun Budha menganggap bahwa pendidikan itu sangatlah penting mereka sudah menyadari akan pentingnya pendidikan. Karena dengan pendidikan suatu bangsa akan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas karena dengan memiliki SDM yang baik maka suatu negara atau kerajaan akan kuat, hal itu sudah dipikirkan oleh mereka pada masa beratus-ratus tahun yang lalu. Marilah, kita bayangkan  betapa tingginya pemikiran petinggi-petinggi kerajaan pada saat itu mereka mendukung penuh para kaum intelek pada masa itu dengan memberikan berbagai macam fasilitas-fasilitas  yang mendukung suasana pendidikan pada masa itu. Bukan hanya di dalam wilayah kerajaannya saja tapi sampai keluar negeri pun mereka dukung, ini menunjukan bahwa diplomasi dari para Raja-raja masa Hindu Budha berjalan dengan sangat baik dan perhatian mereka kepada pendidikan sangatlah tinggi.
Dari kenyataan sejarah itu seharusnya pemerintah saat ini berkaca pada masa-masa pertengahan di Indonesia bagaimana mereka menjalankan pendidikan itu dan betapa tinggi perhatian para pemuka pemerintahan pada masa itu. Pemerintah saat ini cenderung keteteran dalam hal menyediakan pendidikan yang layak dan berrkualitas bagi rakyat nya. Banyak dari daerah-daerah di Indonesia yang belum tersentuh oleh pendidiakan. Gedung-gedung sekolah hampir roboh bahkan tidak sedikit ynag sudah rata dengan tanah karena hancur dimakan usia, tenaga pengajar pun banyak yang memlih untuk mengajar di kota  karena mereka menganggap bahwa masa depan mereka lebih baik  dan cerah ketimbang mengajar di pelosok negeri. Sungguh sangat miris melihat kenyataan ini padahal sudah jelas salah satu tujuan bangsa Indonesia yang terkandung dalam UUD ’45 alinea ke-4 yakni “ Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” namun sekarang tujuan luhur itu hanyalah tinggal sepenggal kata saja yang selalu diucapakan oleh seorang pelajar ketika upacara bendera saja tanpa ada pengertian dan tindak lanjut dari yang berkuasa.
Tidak sedikit dari karya para cendekiawan abad pertengahan Indonesia, dan merupakan karya-karya luhur bangsa yang harus diketahui oleh semua lapisan rakyat Indonesia karena bangsa kita mampu untuk menghasilkan karya intelektual yang tidak kalah baik dengan karya-karya dari bangsa barat nun juah disana.


Brikut adalah beberapa karya intelektual yang terkenal pada masa ini antara lain:
            Dari kerajaan kediri:
·         Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (1019)
·         Bhatara Yudha karya Mpu Sedah (1157)
·         Hariwangsa karya Mpu Panuluh (1125)
·         Gatotkacasraya Mpu Panuluh (1125)
·         Smaradhana karya Mpu Dharmaja (1125)
Dari kerajaan Majapahit: Awal
·         Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (1331-1389)
·         Arjuna Wiwaha karya Mpu Tantular
·         Sotasoma karya Mpu Tantular
·         Pararaton (Epik berdirinya kerajaan kediri hingga Majapahit)
·         Kitab Pathajayna, tidak diketahui pengarangnya
·         Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya
: Akhir
·         Kitab Sundayana, isinya tentang pristiwa Bubat
·         Kitab Sorandaka, isinya tentang pemberontakan Sora
·         Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
·         Panjiwijayakarma, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya hingga menjadi raja.
·         Kitab Usana Jawa, isiny tentang penaklukan pulau bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan keraton Majapahit ke Gelgel, dan penumpasan Raja Raksasa yang bernama Maya Denawa, dan
·         Kitab Usana Bali, isinya tentang kekacauan di bali.
Dari kerajaan Sunda:
·         Arca-arca Wisnu di daerah Cibuaya dan arca-arca Rajasi
·         Kitab carita Parahyangan dan Kitab Sanghyang Siksakanda
·         Cerita-cerita dalam Sastra Sunda kuno bercorak Hindu

Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Jadi secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:
(1) Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan    tingkat tinggi;
(2) Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;
(3) Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;
(4) Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing.





1.2 Pendidikan di Kerajaan Hindu dan Budha Pada Masa pertengahan

a. Sriwijawa
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah membawa keajayaan bangsa Indonesia di masa lampau. Kerjaaan Sriwijaya bukan saja dikenal di wilayah Indonesia saja, tetapi juga dikenal hampir setiap bangsa atau  kearajaanyang berada jauh di luar wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan leatak Kerajaan Sriwijaya yang sangat strategis dan dekat dengan Selat Malaka. Tealh diketahui, Selat Malaka pada saat itu merupakan jalur perdagangan yang satu-satunya dikenal oleh para pedagang ayng dapat menghubungakan antara pedagang-pedagang dari Cina dengan India maupun Romawi.
Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah karena kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti. Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda. Kemajuan di bidang pendidikan yang berhasil dikembangkan Sriwijaya bukanlah suatu hasil perkembangan dalam waktu yang singkat tetapi sejak awal pendirian Sriwijaya, raja Sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung agama dan penganut agama yang taat. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).

b. Holing
Berita dari Cina berasal dari Dinasti Tang menyebutkan bahwa letak dari kerajaan Holing berbatasan dengan Laut Cina Selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah Utara, Po-li (Bali) sebelah Timur dan To-Po-Teng di sebelah Barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-po (Jawa), sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran agama Budha. Sehingga Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing sendiri memiliki seorang pendeta yang terkenal bernama Janabadra. Sebgai pusat pendidikan Budha, menyebabkan seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu bernama Hou ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa sansekerta ke bahasa Cina pada 664-665. Dengan bertambahnya populasi penduduk dan peningkatan standar pendidikan yang dipegang oleh kaum Brahmana, secara perlahan muncullah sistem birokrasi, yang tersusunn atas: hierarki abdi kerajaan, bangsawan dan tuan tanah, di masa kerajaan Hindu-Budha.
Selain dua kerajaan tersebut tidak diketemukan data yang cukup untuk menguak sistem dan pola pengajaran kerajaan-kerajaan Hindu dan budha lainya. karena keterbatasan data yang dapat dikumpulkan. Namun, saya berkesimpulan bahwa hampir dari setiap kerajaan Hindu dan Budha pada masa petengahan ini menerapkan sistem dan pola pendidikan yang sama dengan kerajaan Sriwijaya maupun Holing. Mengapa demikian, karena kita semua tahu dan menyadari bahwa Sriwijaya merupakan pusat dari pendidikan dan keagamaan pada masa ini sehingga mungkin saja kerajaan-kerajaan yang lain mengekor atau bahkan berguru pula ke Sriwijaya karena di sana merupakan pusat agama dan pendidikan di Asia Tenggara dan terdapat guru yang tidak diragukan lagi eksistensinya pada masa itu. Mengapa saya berbicara demikian, karena kerajaan-kerajaan yang nun jauh seperti Nalanda dan Cholamandala di India saja tahu dan melakukan hubungan dengan Sriwijaya ini bgaimana mungkin kerajaan yang berada dalam lingkungan Nusantara ini tidak melakukan hal yang sama. dengan adanya hubungan pastilah terajadi transper  ilmu dari Sriwijaya kepada kerajaan-kerajaan yang lainya yang berada di Nusantara.
Jadi, terdapat kesamaan sistem pendidikan dan pola pendidikan di kerajaan yang ada pada masa ini karena marujuk pada eksistensinya kerajaan Sriwijaya sebagai  pusat dari pendidikan dan keagamaan khususnya budha pada masanya dan Holing di Daratan Jawa juga ikut berperan aktip mengapa demikian karena di Kerajaan Holing ini terdapat seorang Guru yang juga termasyur yakni Janabrata.

2. Pendidikan Masa Islam Pada Abad Pertengahan

Setelah ditaklukannya kerajaan-kerajaan Hindu maupun Budha di Nusantara memunculkan kerajaan-kerajaan Islam yang menggantikan eksistensi kerajaan Hindu dan Budha. Dengan berkembangnya kerajaan Islam tentunya berkembang pula sistem pendidikan yang jauh lebih maju dibandingkan dengan zaman sebelumnya. Berkembangnya Islam di indonesia memang tidak terlepas dari campur tangan para pedagang dari Timur tengah.
Berikut akan saya coba paparkan proses masuknya Agama Islam ke Indonesia. Meskipun hanya sebagian dari masa-masa kerajaan Islam Indonesia yang masuk kedalam abad pertengahan namun, tidak sedikit dari pengaruhnya terahadap dunia pendidikan modern di Indonesia tentunya.

2.1 Proses Masuknya Islam ke Indonesia

Proses masuknya agama Islam di Indonesia masih diperdebatkan waktu keapastiannya. Beberapa seajrawan menyebutkan bahwa abad ke-7 Masehi sebagai waktu masuknya Islam ke Indonesia. Sebagian memberitakan Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sumber sejarah yang berasal daeri berita cina Zaman Dinasti Tang. Catatan ini menerangkan bahawa pada tahun 674 Masehi di Pantai Barat Sumatera telah terdapat perkamapungan orang-orang Arab yang beragama Islam perkampungan itu diberi nama Barus atau Fansur.
Adapun sumber sejarah yang menyatakan Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi yaitu sebgaai berikut:
a.       Catatan perjalanan Marco Polo yamg menerangkan bahwa ia pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 Masehi dan berjumpa dengan orang-orang yang teelah menganut agama Islam.
b.      Ditemukan nisan makam Raja Samudra Pasai, Sultan Malik al-saleh yang berangka 1297 Masehi.
Meski terdapat beberapa pendapat mengenai kedatangan agama Islam di Indonesia, banyak ahli sejarah cenderung poercaya bahwa masuknya agama Islam ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Abad ke-13 M menujukan perkambangan Islam bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

2.2 Pendidikan di Kerajaan Islam

Seiring dengan masuk dan berkembang Islam memunculkan juga kerajaan-kerajaan Islam yang memiliki ketertarikan tinggi terhadap pendidikan karena pendidikan dalam Islam memiliki tempat yang sangat penting. Sehingga banyak dari kerajaan-kerajaan Islam yang mendirikan lembaga-lembaga pendidikan bagi para rakyatnya.
Seperti di salah satu kerajaan Islam tertua yakni Kerajaan Perlak. Di Perlak terdapat suatu lembaga pendidikan lainnya berupa majelis taklim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang alim dan mendalam ilmunya. Materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Ada pula di Cirebon yakni Seperti yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, yakni sebuah naskah yang bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah ini dikatakan, bahwa sekitar abad  XV  Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam,  jauh sebelum Sarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan. 
Seorang pengembara dari maroko yang bernama Ibnu Batutah pada tahun 1345 M sempat singah di kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az Zahir, saat perjalananya ke Cina. Ibnu Batutah menuturkan bahwa ia sangat mengagumi akan keadaan kerajaan Pasai, dimana rajanya sangat alim dan begitu pula dalam ilmu agamanya, dengan menganut paham Mazhab Syafi’I, dan serta mempraktekkan pola hidup yang sangat sederhana.
Menurut apa yang dikemukakan Ibnu Batutah tersebut, dapat ditarik kepada sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai, yaitu:
a). Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah fiqh mazhab  syafi’i.
b). Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah.
c). Tokoh  pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama.
d). Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
            Meskipun hanya kerajaan Seamudra Pasai,  Perlak, dan Demak. Namun, Demak masih menjadi perdebatan mengenai kapan sebenarnya kerajaan Demak ini resmi berdiri yakni 1478 M pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit, dan dilain pihak ada yang berpendapat 1518 M Hal ini berdasarkan, bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara Raden Fatah dari Demak. Kendati demikian meskipun kerajaan Islam yang masuk masa-masa pertengahan hanya itu namun tidak sedikit sumbangsih terhadap dunia pendidikan modern di Indonesia. Berawal dari kedua kerajaan inilah munculnya kerajaan-kerajaan Islam lainya di Indonesia. Dan melanjutkan sistem pendidikan Islam melalui lembaga-lembaga yang formal dan pula mengakhiri sistem pendidiakan Hindu dan Budha yang sebelum masuk dan berkembangya Islam merupakan agama yang dominan sekali. Diantaranya adalah Kerajaan Cirebon ini sesuai dengan bunyi yang disebutkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, yakni sebuah naskah yang bertalian dengan sejarah mulajadi Cirebon. Didalam naskah ini dikatakan, bahwa sekitar abad  XV  Masehi di Cirebon telah ada pergururan Islam,  jauh sebelum Sarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dilahirkan. Ada pula pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh para Walisanga di Kerajaan Demak yang mewakili pendidikan bagi rakyat biasa. Karena tujuan pendidikan  pada masa ini adalah memnyebarkna Islam di Tanah Jawa sehingga pendidikan tidak mengenal lapisan masyarakat pada masa ini. 
            Dengan berkembangnya Islam berkembang pula pendidikan di Indonesia karena pada masa Pertengahan ini cendekiawan muslim dari Jazirah Arab hampir bisa dibilang menguasai pengetahuan. Karena berbeda dengan Gereja yang cenderung mengekang masalah keilmuan tapi para pemimpin musllim di Jazirah Arab sangat mendukung para cendekiawan untuk mengembangkan pengetahuan.
Berikut adalah para filsup dan cendekiawan muslim yang berpengaruh di dalam pengembangan keilmuan Islam:
a. Alkindi (800-870) satu-satunya orang arab asli. Corak filsafatnya   ialah pemikiran kembali dari ciptaan Yunani (menterjemahkan 260 buku Yunani) dalam bentuk bebas dengan refleksinya dengan iman islam
b. Alfarabi (872-950), filusuf muslim dalam pangkal filsafatnya dari Plotinus.
c. Al-Ghazali (1059-1111) filusuf besar Islam yang mengarang Ihya Ulumuddin, di Spanyol
d. Ibnu sina (avicena) (980-1037) yang besar pengaruhnya terhadap filsafat barat, sejak usia 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an.
e. Ibnu Bajjah (1138), penafsiran karya fisik dan metafisik Aristoteles.
f. Ibnu Rushyd (Averros) (1126-1198) yang disebut juga penafsir Aristoteles dan yang sangat berpengaruh terhadap aliran-aliran di Eropa, juga seorang filusuf besar muslim.
g. Avencebrol (ibnu Gebol) (1020-1070).
h. Main monides (moses bin maimon) (1135-1204).
Merupakan nama-nama para cendekiawan muslim yang paling berpengaruh terhadap dunia pendidikan Islam baik itu di Jajirah Arab maupun Eropa. Apakah ada hubungannya, antara perkembangan pendidikan di timur tengah dengan Indonesia. Jawabanya, tentu saja ada dengan berkembangnya pengetahuan tentu mendorong para ulama yang merangkap sebagai guru untuk mengembangkan ilmunya. Dengan berkembang ilmu tentu akan mempengaruhi pola pikir para pengajar sendiri dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia.
Di indonesia sendiri pendidikan Islam tidak hanya meliputi pendidikan agama saja. Melainkan, meliputi segala macam ilmu-ilmu yang berkembang pada saat itu seperti yang telah saya dijelaskan di atas. Pendidikan pada masa kerajaan  Islam sendiri tidak memungut biaya karena biaya ditanggung oleh pemerintah sehingga membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk menuntut ilmu. baik itu di lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan Islam di pusat pemerintahan saat itu, maupun pendidikan di Langgar atau Surau-surau di perkampungan. Maka jelaslah bahwa para pemimpin masa kerajaan Islam pun memiliki ketertarikan tinggi terhadap pendidikan layaknya para pemimpin Hindu dan Budha, meskipun berbeda karena pemimpin Islam tidaklah mengkotak-kotakan rakyatnya untuk menuntut ilmu. Semua masyarakat yang ingin tahu dan menjadi lebih dalam pengetahuannya dapat menuntut ilmu baik itu secara formal maupun secara informal, formal melalui pesantren-pesantren, ataupun perguruan-perguruan tinggi yang telah banyak berdiri, sedangkan secara informal malalui beajar di langgar-langgar, surau-surau, dan masjid dalam lingkup yang lebih luas lagi.



           
Daftar Pustaka

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Kurnia, Anwar. 2009. IPS Terpadu SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga.
Surajiyo. 2005. Ilmu filsafat suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu.
http://id.wikipedia.org/wiki/ Islam.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.
Umar Tirtarahardja dan S. L. LA Sulo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar